photo air-terjun_zps202f7476.jpg  photo pantai_zps83af528a.jpg  photo hiking_zps0df89cba.jpg  photo puncak_zps5732fee9.jpg  photo panjat-tebing_zps8f902bd8.jpg
Tampilkan postingan dengan label Caving. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Caving. Tampilkan semua postingan

PEMETAAN DALAM PENELUSURAN GUA

Dalam kegiatan penelusuran gua, pemetaan merupakan suatu hal yang penting, bahkan pemetaan dapat disebut sebagai aspek ilmiah dari suatu kegiatan yang bersifat petualangan. Meskipun sebenarnya banyak penelitian ilmiah yang dapat dilakukan di dalam gua, seperti penelitian Biologi, Geologi, Geomorfologi, Arkeologi, Hidrologi, Geografi, dan lain sebagainya. Tetapi sebenarnya pemetaan menduduki posisi yang paling penting. Boleh-boleh saja dalam penelusuran gua tidak melakukan penelitian Biologi atau Geologi atau yang lainnya, tetapi pemetaan merupakan hal yang wajib dikerjakan oleh seorang yang berpredikat ‘caver’.
Begitu penting pemetaan, sampai-sampai ada seorang teman dari jurusan Geografi yang menyatakan bahwa “sebuah peta lebih mempunyai banyak arti daripada seribu kata-kata”.
Pemetaan merupakan bagian dari kegiatan yang bersifat perekaman atau pendokumentasian. Dalam hal ini adalah yang berhubungan dengan rekaman bentukan fisik gua, misalnya bentuk atau denah lorong, panjangnya, tingginya, keletakan ornamen, apa saja ornamennya, posisi aliran air, lumpur, sump, dan lain sebagainya.
Pemetaan sebuah gua merupakan salah satu upaya untuk mendokumentasikan gua tersebut, sehingga peta tersebut akan menjadi informasi untuk penelusur gua lainnya, ia akan mengetahui denah guanya, ukurannya, ornamen yang menghiasinya, dan lain sebagainya, jauh dari sebelum ia sendiri memasuki gua tersebut. Pemetaan juga memberikan informasi ilmiah yang berguna bagi penelitian ilmu pengetahuan. Peta gua juga berarti sebagai bukti seorang caver telah memasuki atau mengeksplorasi suatu gua.
1. Peta Gua
Sebuah Peta Gua yang baik, akan dapat memberikan gambaran kepada orang yang membaca peta tersebut dengan mudah.
Sehingga sebuah peta gua harus Informatif, dan Komunikatif.
Dianggap informatif apabila, data-data yang perlu diketahui dapat ditemukan disini, dalam hal ini data-data yang dibutuhkan untuk sebuah kepentingan eksplorasi. Tentu akan berbeda dengan peta yang dibuat untuk kepentingan penelitian, atau wisata misalnya. Dan peta tersebut akan komunikatif apabila dalam hasil akhirnya tidak membingungkan orang yang membacanya, memiliki alur dan susunan yang jelas dan sesuai dengan aturan yang telah disetujui bersama.
Peta sebuah gua minimal menerangkan tentang;
  1. Penampang Atas, atau denah lorong untuk menunjukkan bentukan, arah dan belokan lorong.
  2. Penampang Samping, Irisan, atau Section untuk menunjukkan ketinggian lorong, dan kemiringan gua tersebut.
  3. Simbol Ornamen, simbol-simbol yang telah disepakati untuk mewakili ornamen yang terdapat di dalam gua tersebut.
  4. Potongan Stasiun, ditiap titik yang dijadikan sebagai pos atau stasiun digambarkan potongannya.
  5. Data Gua, keterangan mengenai gua tersebut, namanya, letak geografis dan administratifnya, surveyornya, dan tanggal dilakukan survey untu pemetaan. Hal ini termasuk penting mengingat perubahan bentukan gua dapat terjadi setiap saat.
  6. Skala, untuk menunjukkan perbandingan, biasanya digunakan skala batang karena lebih mudah untuk membayangkan keadaan sebenarnya.
  7. Arah Utara Peta
  8. Legenda, atau keterangan simbol.
Apabila sudah terdapat hal-hal tersebut, maka peta gua yang dibuat seharusnya sudah mampu memberikan informasi yang cukup bagi penelusur gua lainnya.
Sebuah peta gua tentunya juga memiliki tingkat akurasi yang berbeda-beda. Di dunia ada beberapa penilaian terhadap keakuratan tersebut, tergantung pada kesepakatan federasi masing-masing.
Saat ini, yang lazim digunakan di Indonesia adalah sistem grade yang digunakan di Eropa, yang memakai skala 1 sampai 6. Mengenai hal ini akan dijelaskan lebih lanjut di tahap pendalaman.
Untuk mendapatkan informasi yang akan dituangkan ke dalam peta gua, ada beberapa prosedur pemetaan yang harus dilakukan. Sekilas prosedur-prosedur ini akan tampak merepotkan ketika mengeksplorasi sebuah gua, namun sebenarnya kerepotan tersebut akan terbalas dengan hasil yang nantinya kita dapatkan.
2. Alat-alat perlengkapan pemetaan
  1. Drafting film atau Kodak Trace sejenis kertas kedap air, seperti kertas kalkir tetapi lebih tebal dan kedap air juga bisa dihapus jika menggunakan alat tulis pinsil.
  2. Topofil, alat untuk mengukur jarak antara stasiun. Kalau tidak ada dapat juga dipakai rollmeter.
  3. Alas tulis dan alat tulis (pinsil, penghapus, dan serutan)
  4. Kompas, alat untuk mengukur sudut deviasi atau azimuth. Biasanya kompas Silva atau Suunto yang digunakan.
  5. Clinometer, alat untuk mengukur kemiringan gua (turun atau naik) Suunto PM5/360 adalah Clinometer yang terbaik.
3. Prosedur Pemetaan
Prosedur pemetaan yang dimaksud disini adalah teknis pengambilan data untuk menghasilkan sebuah peta gua, data-data tersebut akan dicatat di sebuah catatan lapangan untuk kemudian diterjemahkan. Secara garis besar, pengambilan data dilakukan dengan membuat bentukan kasar gua yang dieksplorasi, dengan cara mengambil beberapa titik untuk dijadikan sebagai stasiun. Di stasiun-stasiun tersebutlah data-data direkam, diantaranya arah lorong, ketinggian lorong, kemiringan antara stasiun, tinggi langit-langit gua, lebar lorong dan keterangan lainnya.
Pemetaan dapat dilakukan oleh minimal dua orang, dimana satu orang menjadi leader yang memegang ujung alat ukur dan menentukan posisi stasiun, sementara orang kedua menjadi pencatat data yang memasukkan data ke dalam field note.
Leader, adalah orang yang berhak menentukan posisi stasiun. Satu titik dapat dijadikan stasiun karena beberapa sebab yaitu;
  • Lorong yang dieksplorasi berubah arah
  • Leader sudah tidak dapat terlihat oleh orang kedua
  • Terdapat kemiringan yang ekstrim
  • Terdapat perubahan bentukan lorong yang ekstrim
  • Terdapat ornamen yang unik
  • Jarak dengan stasiun terakhir sudah menjadi jarak maksimal untuk membuat peta dengan grade tertentu.
Satu hal yang mutlak diperhatikan adalah bahwa posisi leader harus masih terlihat oleh pencatat data.
Contoh catatan lapangan
Keterangan :
STS; Adalah nama stasiun, dapat dinamakan sesuai kehendak, misalnya A-B,B-C, atau 1-2,2-3, dll.
Jarak; adalah jarak antara stasiun yang satu dengan yang lainnya
Azim.; adalah sudut yang ditunjukkan oleh kompas antara satu stasiun dengan stasiun disepannya
Clino; adalah derajat kemiringan antar stasiun, biasanya + apa bila stasiun didepannya lebih tinggi, dan – bila stasiun didepannya lebih rendah.
Kanan dan Kiri; adalah jarak dari poros orang ke dinding gua kanan dan kiri.
Atas dan Bawah; adalah Tinggi dan kedalaman gua.
Keterangan; diisi dengan hal-hal khusus yang ditemui, seperti ornamen yang unik, keterangan mengenai bentukan lorong, dll
Selain itu dalam pemetaan, pencatat data juga membuat sketsa lorong dan irisan stasiun yang akan memudahkan pembuatan peta gua.
4. Cara Kerja
  1. Stasiun A biasanya pada mulut atau pintu masuk gua. Di sini berdiri pencatat data yang membawa kompas, clinometer dan catatan lapangan.
  2. Leader membawa topofil atau rollmeter (ujung benang atau pita meter dipegang oleh Pencatat data) hingga tempat yang dianggap sebagai stasiun B
  3. Pencatat data mencatat hasil pengukuran panjang, azimuth, clino juga mencatat lebar kiri dan kanan lorong pada stasiun A pada lembar catatan lapangan.
  4. Pencatat data juga membuat sketsa denah lorong gua antara stasiun A dan stasiun B. Pekerjaan ini dapat dibantu dengan adanya benang atau pita meter yang memanjang antara stasiun A dan stasiun B. Pintu masuk juga dibuat denah dan irisannya.
  5. Rekam dan catat juga atau ploting pada sketsa jika dijumpai hal-hal yang istimewa atau khusus, seperti adanya stalagmit yang besar atau adanya aliran air, flowstone, dsb.
  6. Selanjutnya pencatat data menuju stasiun B dan surveyor 2 menuju stasiun C dan kembali melakukan pengukuran, pemetaan dan pembuatan sketsa denah.
  7. Pada prakteknya dapat dilakukan bergantian.
  8. Jangan lupa membuat gambar potongan / irisan dari lorong-lorong tertentu atau khusus.
5. Menyalin data lapangan menjadi sebuah peta gua
Langkah pertama yang harus dilakukan di tahap ini adalah menyalin kembali data lapangan sesegera mungkin, karena catatan lapangan kita pasti akan kotor, dan kemungkinan tidak jelas terbaca.
Kemudian kita membuat peta gua kasar di kertas milimeter block. Data Azimuth, Kanan, kiri dan jarak akan berguana dalam membuat Penampang atas atau denah, sementara data kemiringan, atas dan bawah akan berguna untuk membuat irisan atau penampang samping.
Setelah itu, kita dapat menyalin draft peta yang telah kita buat ke kertas kalkir, dan kemudian ditambahkan kelengkapan-kelengkapan lainnya.
gambar : contoh peta gua
6. Hambatan
Berbeda dengan pembuatan / survey pemetaan yang biasanya dilakukan di tempat terbuka, maka pemetaan gua sepenuhnya dilakukan di dalam gua, jauh di bawah muka bumi. Kondisi gua yang pastinya gelap total, hanya ada penerangan lampu karbit yang terbatas cahayanya, belum lagi lantai gua yang penuh lumpur, ruangan yang sempit, dan waktu yang terbatas dimana kita tidak dianjurkan lupa waktu di dalam gua. Tetapi itu semua bukan menjadi alasan untuk tidak melakukan pemetaan gua, lebih-lebih bagi mereka yang mengaku sebagai ‘caver’. Yang ingin digarisbawahi di sini adalah bahwa apapun kondisinya seorang caver wajib membuat peta gua di dalam eksplorasinya, khususnya gua-gua yang belum dipetakan.

Etika dan Kuwajiban Saat Menelusuri Gua



Menelusur gua dapat merupakan Olahraga maupun untuk tujuan ilmiah. Dari kategori di atas, penelusur gua wajib menjunjung tinggi 'Etika' dan 'Kewajiban' kegiatan penelusuran gua. Kemahiran teknis saja tidak cukup untuk menganggap dirinya mampu dan pantas melakukan kegiatan penelusuran gua. Seorang pemula atau yang sudah berpengalaman sekalipun harus mematuhi Etika dan Kewajiban penelusuran gua.

Etika
1. Harus disadari bahwa seorang penelusur gua 'dapat' merusak gua, karena membawa kuman, jamur dan virus asing ke dalam gua yang lingkungannya masih murni. Larangan mutlak apabila membuang kotoran seperti sampah, sisa karbit, puntung rokok, kantong plastik, sisa makanan, batu baterai mati, botol atau kaleng minuman dan makanan, serta dilarang keras mencoret-coret gua dengan benda apapun. Hal ini digariskan dengan delas dalam kode etik speleologi :
          - Jangan mengambil sesuatu, kecuali foto
          - Jangan meninggalkan sesuatu, kecuali jejak kaki.
          - Jangan membunuh sesuatu, kecuali waktu



2. Gua adalah bentukan alam dalam kurun waktu ribuan tahun. Usaha merusak gua mendatangkan kerugian yang tidak dapat ditebus. Jangan merusak, mengambil atau memindahkan sesuatu di dalam gua tanpa tujuan yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan. Untuk tujuan ilmiah, harus diusahakan pengambilan spesimen secara amat terbatas dan selektif. Itupun apabila di laboratorium atau museum belum tersedia spesimen yang sama dan belum pernah diambil oleh ahli speleologi lainnya. Menelusuri dan meneliti gua harus dilakukan dengan penuh respek, tanpa mengganggu, mengusir, merusak atau mengambil isi gua, baik benda mati atau hidup.
3. Menelusuri gua disertai kesadaran, bahwa kesanggupan dan keterampilan pribadi tidak usah dipamerkan. Sebaliknya ketidakmampuan tidak perlu ditutup-tutupi dengan rasa malu. Bertindaklah sewajarnya, tanpa membohongi diri sendiri dan orang lain. Apabila tidak sanggup, tetapi dipaksakan, maka hal berakibat buruk yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Adalah melanggar etika apabila memandang rendah keterampilan serta kesanggupan sesama penelusur, memaksakan diri melakukan tindakan di luar kemampuan teknis, serta belum siap mental atau keadaan kesehatan tidak memadai.
4. Tunjukkan respek terhadap sesama penelusur gua dengan :
   - Jangan memakai bahan-bahan atau peralatan yang disediakan rombongan lain tanpa persetujuan mereka.
   - Jangan membahayakan penelusur lain.
   - Jangan menghasut penduduk sekitar gua untuk melarang atau menghalangi rombongan lain memasuki gua.
   - Jangan melakukan penelitian yang sama, apabila rombongan lain sedang mengerjakannya.
   - Jangan gegabah menganggap anda penemu sesuatu.
   - Jangan melaporkan hal-hal yang tidak benar demi sensasi atau ambisi pribadi, karena hal ini berarti membohongi diri sendiri dan dunia speleologi khususnya.
   - Jangan menjelek-jelekkan nama sesama penelusur dalam suatu publikasi.

Resiko DI Dalam Gua

Susur gua atau Caving adalah salah satu kegiatan outdoor yang aman dilakukan selama para penggiatnya memahami safety procedure dengan baik. Tetapi walau bagaimanapun, seorang caver harus siap dengan resiko kecelakaan yang akan menghadang. Lebih baik hal ini di waspadai dari awal agar persiapan lebih matang, atau paling tidak mengetahui cara mengatasi resiko tersebut.

1. Terperosok ke lubang
Dikarenakan kondisi gua yang gelap, caver sering melakukan kesalahan dalam menaksir jarak, sehingga sebuah lubang yang cukup dalam, terlihat dangkal. Tipuan ini menyebabkan ia merasa mampu untuk meloncat ke dalam lubang tersebut. Etikanya tidak diperkenankan melakukan lompatan apapun di dalam gua.

2. Tertimpa batu
Tertimpa batu, merupakan kejadian yang sering terjadi, karena runtuhan alami akibat rapuhnyadinding gua atau akibat ketidaksengajaan si caver yang menyebabkan jatuhnya batuan dan menimpa penelusur lain. Sebagai langkah pencegahan, kita di wajibkan mengenakan helmsebagai pelindung kepala.

3. Peralatan yang tidak memenuhi syarat
Kecelakaan bisa terjadi akibat buruknya atau tidak memenuhi syarat perlengkapan yang sedang dipakai para caver. Misalnya tali putus, ascender tidak berfungsi. Oleh karena itu perawatan dan pemeliharaan alat - alat setelah digunakan mutlak dilakukan untuk menjamin daya guna peralatan untuk caving.



4. Banjir
Di gua yang memiliki aliran sungai di bawahnya, sangat memungkinkan terjadinya banjir. Hal ini bisa di picu karena hujan di permukaan atasnya. Maka kewajiban para caver untuk memperhatikan cuaca saat akan melakukan ekspedi penelusuran gua. Bukan itu saja caver juga di haruskan mengetahui lokasi - lokasi yang bisa menjadi tempat berlindung sewaktu banjir datang tiba - tiba.

5. Hipotermia
Apabila lokasi gua berada jauh diatas permukaan laut, adanya angin kencang yang berhembus kedalam lorong tersebut dan penelusur gua telah lama terendam dalam air.

6. Gas Beracun
Gas yang terdapat di dalam ruangan gua adalah CO2, karena tetesan air di dalam dinding dan atap gua mendispusikan gas CO2. Lokasi gua yang terdapat habitat kelelawar semakin memperparah kandungan gas ini. Tumpukan guano ( khususnya jenis kelelawar pemakan buah dan penghisap ) banyak menghasilkan gas CO2. Di sarankan untuk melakukan penelusuran saat malam hari dan harus dihindari lorong yang terdapat banyak hewan ini.

7. Tersesat
Seperti film Sanctum, tentang beberapa petualang yang terjebak sewaktu menelusuri lorong - lorong gua. Film ini di angkat kisah nyata saat mereka menelusuri gua. Kondisi ini sering terjadi di gua yang memiliki lorong bertingkat dan banyak percabangan. Maka dari itu setiap caver harus cermat saat mereka sedang mengeksplorasi gua.

13 Tips Menyusuri Gua

Sekarang ini hoby caving sudah semakin meningkat dan banyak orang sudah tertarik untuk mencoba salah kegiatan extreme ini...kegiatan yang memiju adrenalin
Berikut ini beberapa tips yang mungkin dapat digunakan ketika beraktifias...lgs cekidrott

Susur gua atau Caving adalah salah satu kegiatan outdoor yang aman dilakukan selama para penggiatnya memahami safety procedure dengan baik. Tetapi walau bagaimanapun, seorang caver harus siap dengan resiko kecelakaan yang akan menghadang. Lebih baik hal ini di waspadai dari awal agar persiapan lebih matang, atau paling tidak mengetahui cara mengatasi resiko tersebut

Spoilerfor 1. Pelajari Gua: 

Sebelum pergi ke lokasi gua, cobalah untuk mempelajari segala informasi mengenai gua yang akan dikunjungi. Ini membantu Anda untuk mengetahui medan yang akan dihadapi. Cari juga informasi mengenai apa saja yang akan ditemui selama penelusuran gua, baik hal yang terburuk maupun yang terbaik.


Spoilerfor 2. Siapkan Mental dan Fisik: 

Hal yang tidak boleh dilupakan sebelum menelusuri gua adalah menyiapkan mental dan fisik. Jangan pernah meremehkan penelusuran Gua, terutama untuk orang yang baru pertama kali mencoba. Ada banyak hal dan rintangan yang bisa Anda temui di dalam gua. Jadi siapkan mental dan fisik sebaik - baiknya.


Spoilerfor 3. Perhatikan Fasilitas yang ada: 

Jika berwisata gua bersama dengan pemandu, pastikan Anda mendapatkan perlengkapan yang lengkap, seperti helm, penerang, cover-all, sepatu, dan fasilitas lain yang diperlukan. Bila pusing mengenakan helm, pastikan Anda berada pada lorong yang aman untuk melepaskan helm sejenak, kemudian dikenakan kembali. Jika menelusuri gua dengan sungai, pastikan Anda membawa dan mengenakan pelampung.

Pakailah peralatan tersebut selama menelusuri sungai bawah tanah. Pastikan juga sang pemandu menggunakan peralatan standar. Jika pemandu mengabaikan hal ini, jangan sungkan - sungkan untuk menegur pemandu tersebut. Anda berhak untuk menegur demi keselamatan selama penelusuran. Jika terhadap keselamatan diri sendiri saja pemandu mengabaikan, bagaimana mereka akan memperhatikan keselamatan Anda?


Spoilerfor 4. Perhatikan detail setiap lorong: 

Selama penelusuran, nikmatilah keindahan gua. Tapi jangan lupa untuk memperhatikan setiap detil lorong gua. Amati juga serasah yang ada di dinding gua,sehingga Anda bisa membayangkan seberapa besar air yang bisa menggenangi lorong gua. Pastikan juga Anda melihat lorong - lorong gua yang tinggi dan jauh dari sungai. Ini bisa dijadikan tempat Anda berlindung bila terjadi banjir tiba - tiba.


Spoilerfor 5.Saling Mengingatkan satu sama lain: 

Perhatikan teman sesama penelusur, jika ada rintangan di depan, beritahulah kepada teman yang berada di belakang. Jangan lupa mengingatkan teman jika ada yang tidak sesuai dengan kaidah penelusuran gua. Ingatkan juga teman untuk tidak merokok di dalam gua, karena bisa mengurangi jumlah oksigen yang sudah relatif terbatas.



Spoilerfor 6. Jaga keindahan gua: 

Jika menemukan ornamen gua yang bagus dan ingin berfoto di dalam gua, pastikan Anda tidak menyentuh atau menginjak ornamen tersebut. Ini karena dengan menyentuh atau menginjak, Anda telah merusak ornamen tersebut. Jangan pula meninggalkan sampah di dalam gua.


Spoilerfor 7. Jangan panik bertemu binatang: 

Hal yang wajar terjadi ketika menelusuri gua adalah bertemu dengan hewan penghuni gua. Salah satu hewan yang bisa Anda temui adalah ular. Bila bertemu hewan melata ini, jangan panik! Biarkan ular itu tetap berada pada tempatnya, jangan ganggu hewan itu supaya tidak berpindah tempat. Anda pun lebih mudah mewaspadai begitu kembali. Jika bertemu dengan koloni kelelawar dalam satu lorong, jangan pernah mengarahkan kamera dengan blitz secara langsung ke arah koloni tersebut. Kelelawar yang terganggu dengan kilatan cahaya bisa beterbangan dan mengganggu Anda. Pastikan juga Anda tidak mengambil atau membunuh bertemu binatang gua, seperti jangkrik, laba - laba, atau kalacemeti.



Spoilerfor 8. Hati-hati dengan kubangan: 

Selama penelusuran, mungkin akan ada banyak kubangan air di lantai gua. Semaksimal mungkin jangan menginjakkan kaki dalam kubangan tersebut. Ini karena bisa jadi di dalamnya ada binatang gua yang unik dan khas. Anda juga harus berhati - hati jika ingin menikmati mandi di dalam gua. Jangan langsung lompat ke dalam air sebelum tahu kondisi pasti dasar air.


Spoilerfor 9. SRT utk gua vertikal: 

Khusus gua vertikal, pastikan Anda telah menggunakan SRT atau Single Rope Technique dengan benar dan telah diperiksa oleh pemandu atau teman. SRT adalah teknik yang digunakan untuk menelusuri gua vertikal, dengan menggunakan satu tali sebagai lintasan untuk naik dan turun medan vertikal.

Peralatan standar
Climbing harness - Ini adalah statis dan lebih tahan abrasi daripada memanfaatkan digunakan dalam panjat tebing.
Memanjat tali - Tali yang digunakan untuk abseiling rendah-peregangan tali statis, biasanya tebal 9mm di Eropa. Dalam tali SRT AS tebal (11mm) dan lebih tahan abrasi, mengingat jumlah yang lebih besar dari tali gosok ditoleransi. Tali dipotong menjadi berbagai panjang
Ascender - Ini digunakan untuk naik tali. Perangkat yang digunakan Cams tuas yang pernah digunakan, meskipun ini kini telah dikalahkan oleh popularitas perangkat cam bergigi yang tergelincir sedikit. Minimal dua pendaki yang digunakan, salah satu yang melekat harness di tingkat pinggang, dan lain melekat pada footloop dan pindah dengan tangan. Sebuah ascender ketiga dapat menempel pada kaki dan teknik ropewalking digunakan.
Descender - Ini digunakan untuk meluncur menuruni tali. Ada dua jenis utama descender - sebuah descender gelendong seperti Berhenti Petzl , atau descender rak, disukai di bagian AS untuk keturunan halus dan kapasitas panas yang sangat baik tenggelam. Descenders kumparan disukai untuk gaya Eropa SRT karena lebih mudah untuk mengubah tali dengan di rebelays dan lebih ringan.
Cowstails - Ini adalah lanyards digunakan untuk klip ke titik aman kontak ketika beralih pada rebelays dan sementara menggunakan jalur melintasi. Mereka terbuat dari seutas tali yang dinamis dengan dua lanyards yang berbeda-beda panjang berakhir dengan carabiner .
Pisau - Pisau yang digunakan sebagai peralatan keselamatan untuk memotong tali, memotong rambut terjebak dalam descenders dll
Whistle - Pada pitches panjang di mana berteriak tidak efektif, peluit yang digunakan untuk sinyal anggota tim lainnya.



Spoilerfor 10. Selalu hati-hati: 

Selalu berhati-hati dan jangan pernah merasa hebat atau meremehkan kondisi gua. Terkadang, kondisi gua yang mudah menyimpan bahaya yang tidak pernah disadari. 


Spoilerfor 11. Selalu bekerja sama: 

Hal ini sangat penting, apabila terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, bekerja sama satu dan mulai memperhatikan hal yg menjadi prioritas.



Spoilerfor 12. Ingat kode etik: 

Tidak mengambil sesuatu kecuali mengambil potret ( Take nothing but picture.)
Tidak meninggalkan sesuatu, kecuali jejak kaki ( Leave nothing but footprint )
Tidak membunuh sesuatu kecuali waktu ( Kill nothing but time )



Spoilerfor 13. Ingat kewajiban sebagai penelusur gua: 

Konservasi lingkugan gua, membersihkan gua, saling menolong dan lainnya




Spoilerfor pic: 

Beberapa peralatan


Spoilerfor pic: 
beberapa gua

Tips dan Teknik Menyusuri Gua

Bentuk dan karakter CAVE yang berbeda-beda, dan perbedaan itu menyebabkan metode untuk memasuki gua itu berlainan. Ada yang memanjat, memakai tali, dan bahkan ada yang berenang. Tetapi ada juga gua yang mudah di masuki karena jalan masuk gua tersebut telah di bangun dengan rapi dan baik. Selayaknya wisata gua. Beberapa penggemar olah raga ini ada yang datang ke gua untuk mengabadikan keindahan dan keajaiban gua, baik dekorasi guanya maupun beberapa hewan yang ada di dalam gua itu. Untuk tujuan itu, datanglah dengan membawa seperangkat alat foto.
Sebelum mengenal teknik untuk menjelajah gua kita harus mengenal beberapa medan/tipe gua yang berbeda agar dapat mengaplikasikan teknik dan mempersiapkan segalanya sesuatunya sehingga lebih matang.
Berikut beberapa struktur medan dalam gua :
Medan Horizontal
Medan gua horizontal sangat bervariasi, mulai padalorong – lorong yang dapat dengan mudah ditelusuri, sampai lorong yang membutuhkan teknik khusus untuk dapat melewatinya.a. Lumpur
Lorong yang berlumpur dapat dengan mudah kalau lumpur tersebut tidak terlalu tebal. Jika setinggi lutut bahkan sampai perut, untuk melewatinya kita bergerak dengan posisi seperti berenang, agar mudah bergerak dan hemat tenaga.b. Air
Untuk kondisi gua yang berair, terutama untuk gua yang belum pernah dimasuki kita tidak mengetahui kedalaman air dan kondisi bawah air, untuk itu kita harus mengetahui kedalaman dan kondisi bawah air, untuk itu kita harus mengetahui prosedur dan mempunyai fasilitas pendukung.

Syarat utama untuk melewati lorong berair adalah harus bisa berenang. Tetapi dengan kondisi lorong yang serba terbatas, teknik berenang dalam gua berbeda dengan berenang di luar gua. Karena di sini kita memakai pakaian lengkap, sepatu boot bahkan mungkin membawa beban yang cukup berat.
Pembagian team juga harus disesuaikan. Leader tidak boleh membawa beban berat, karena membuat lintasan dan mempelajari kondisi medan. Dalam kondisi tertentu kita menggunakan pelampung bahkan perahu karet terutama untuk lorong yang panjang dan berair dalam.
Ada juga lorong yang hampir semua dipenuhi air dan hanya ada sedikit ruangan yang tersisa. Untuk melewatinya kita harus melakukan Ducking (menengadah).
Berbagai macam teknik penelusuran gua horizontal (TPGH):
- Duck Walking yaitu jalan jongkok dengan satu tangan dijulurkan ke depan.
- Crawling yaitu bayi yang merangkak
- Belly crawling yaitu merangkak,seluruh badan menempel ke tanah
- Crouching yaitu jalan jongkok
- Squeezing yaitu merayap dengan lorong yang sempit
- Bear Walking yaitu mirip posisi merangkak hanya saja posisi kaki lurus
Medan VertikalDalam penelusuran gua terkadang kita menjumpai lorong yang terletak di atas kita. Atau bahkan entrance / mulut gua berupa sumuran. Untuk dapat meneruskan penelusuran kita perlu menggunakan teknik-teknik Climbing. Seperti penggunaan pengaman sisip dan bor tebing untuk membuat lintasan. Yang membuat lintasan adalah Leader / Rigging man kemudian anggota yang lain melewatinya dengan menggunakan SRT. Untuk melakukan free climbing dilakukan pada kondisi medan seperti ;
- Aliran air yang deras dan kita tidak mengetahui kedalamannya
- Gua yang berbentuk celah dan menyempit pada bagian dasarnya (crack)
- Sungai yang besar atau danau yang dalam
- Pemasangan lintasan pada air terjun
- Melewati Calcite Floor
Setelah memahami beberapa medan dalam gua kita lanjutkan ke pemahaman teknik penulusuran dalam gua. Sebenarnya, dalam olah raga menyusuri gua ini ada 6 spesialisasi yang dikenal dan berkembang di seluruh dunia, yaitu:
adalah teknik yang dipergunakan untuk untuk menelusuri gua-gua vertikal dengan menggunakan satu tali sebagai lintasan untuk naik dan turun medan-edan vertikal. Berbagai sistem telah berkembang sesuai dengan kondisi medan di tempat lahirnya masing-masing metode. Namun yang paling banyak dipergunakan adalah Frog Rig System.
Teknik yang lain adalah: Rope walker, Texas Rig, Jumaring, Mitchele System, Floating cam system.
Sistem Frog Rig menggunakan alat:
1. Seat harness, dipergunakan untuk mengikat tubuh dan alat-alat lain. Dipasang di pinggang dan pangkal paha. Jenis-jenisnya adalah: Bucklet, Avantee, Croll, Rapid, dan Fractio. Keeratan pemakaian seatharness tergantung kebiasaan.
2.Chest Ascender, dipergunakan untuk memanjat (menaiki) lintasan atau tali dipasang di dada. Dihubungkan ke Delta MR oleh Oval MR
002.JPG
3. Hand Ascender, dipergunakan untuk memanjat (menaiki) lintasan atau tali di tangan. Di bagian bawah dipasang descender, tempat digantungkannya foot loop dan cows tail.
4. Descender, dipergunakan untuk menuruni tali. Ada beberapa jenis descender: Capstand (ada dua macam: Simple Stop dan Auto Stop), Whaletale, Raple Rack (ada dua macam: Close Rack dan Open Rack), Figure of Eight, dan beberapa jenis lagi yang prinsip kerjanya sama dengan figure of eight.
5. Mailon Rapid,ada dua macam Mailon Rapid (MR), yaitu: Oval MR untuk mengaitkan Chest Ascender kepada Delta MR. Delta MR sendiri adalah untuk mengkaitkan dua loop Seat Harness dan tempat mengkaitkan alat lain seperti Descender berikut Carabiner sebagai friksinya dan Cowstail.
6. Foot loop , dicantolkan ke karabiner yang terhubung ke hand ascender. Berfungsi sebagai pijakan kaki. Ukuran dari foot loop harus tepat seperti gambar diatas. Hal ini sangat mengurangi kelelahan pada waktu ascending di pitc-pith yang panjang.
003.JPG
7. Cows tail, memiliki dua buah ekor. Satu terkait di Hand Ascender, dan satu lagi bebas, dipergunakan untuk pengaman saat melewati lintasan-lintasan intermediate, deviasi, melewati sambungan, tyrolean, dan traverse.
8. Chest harness, untuk melekatkan Chest Ascender agar lebih merapat ke dada. Sehingga memudahkan gerakan sewaktu ascending normal, atau pada saat melewati sambungan tali. Chest harness lebih baik jika dapat diatur panjang pendeknya (adjustable), sehingga memudahkan pengoperasian, terutama apabila terjadi kasus dimana Chest Ascender terkunci di sambungan atau simpul, atau pada saat rescue.
Teknik-teknik yang harus dipelajari untuk SRT adalah ascending dan descending dengan penguasaan melewati jenis-jenis lintasan dan medan.
~1. Melewati intermediate anchor
~2. Melewati deviation anchor
~3. Melewati sambungan tali
~4. Melewati lintasan tyrolean, menggunakan satu tali dan dua tali.
~5. Meniti tali dengan medan slope (miring).
*Ascending
004.JPG
~Perhatikan gerakan telapak kaki ketika sedang ascending.
005.JPG
Gerakkan telapak kaki untuk menjepit tali dengan telapak kaki. Cara pertama adalah menjepit tali menggunakan bagian dalam pergelangan kaki dengan bagian luar telapak kaki. Cara kedua adalah menjepit tali dengan kedua telapak kaki ketika melakukan gerakan berdiri. Ketika mengangkat kedua kaki, kedua telapak kaki dibuka.
Climbing
Climbing digunakan bila kamu ingin mencari jalan pintas baru untuk turun atau naik gua. Untuk menggunakan teknik ini kamu harus menggunakan tali pengaman agar tidak terjatuh.
Digging
Sama dengan climbing, metode digging juga dipakai untuk mencari jalan baru. Hanya, metode digging dipakai secara teratur dan dalam kurun waktu yang cukup lama, bisa mingguan, bulanan atau bahkan tahunan. Peralatan dan metode yang dipakai dalam penggalian itu pun sangat bervariasi. Kadang – kadang harus disertai dengan kemah di dalam gua.
Cave Diving
Jika kamu mendapatkan bagian gua yang dipenuhi dengan air maka kamu harus menggunakan metode diving. Jika yang terendam air hanya sebagian kecil dari gua, kamu dapat melakukan penyelaman bebas, tanpa peralatan apa pun. Soalnya, metode itulah yang paling praktis. Namun, bila bagian gua yang tergenang air itu cukup banyak dan jauh, misalnya sampai beberapa kilomter maka kamu harus melakukan penyelaman yang disertai dengan peralatan yang lengkap. Namun, penggemar olah raga Caving yang memilih spesialisasi ini sangat sedikit.
Cave Photography
Spesialisasi inilah yang paling populer di kalangan pecinta penelusuran gua. Kamu datang ke gua dengan bekal kamera kemudian mencari lokasi yang paling indah untuk diabadikan. Hasilnya, bisa kamu publikasikan lewat buku – buku atau majalah.
Cave Art
Metode ini merupakan pengembangan dari rasa ketertarikan orang terhadap keindahan gua.
*PERHATIAN:
~Latihan ini harus dilakukan mengunakan peralatan yang mutu dan kekuatannya memenuhi standar.
~Latihan harus dibawah pengawasan oleh ahli.
~Berlatihlah pada ketinggian yang tidak terlalu tinggi.
~Cegahlah latihan yang dapat merusakkan alat: membebani alat melebihi beban normal, beban dengan arah abnormal, menggunakan alat tidak sesuai dengan manual book-nya. Latihan yang dilakukan dengan menggunakan alat-alat alternatif, harus masih dalam tingkat aman.
~Pernah melakukan latihan teknik tertentu bukanlah jaminan bahwa kita sudah menguasai teknik tersebut.
~Berlatihlah satu teknik sampai lancar tanpa hambatan dan kesalahan sebelum berlatih teknik yang lain.
~berlatihlah dengan selalu ditemani oleh orang lain yang juga memahami SRT.
~Berniatlah berlatih untuk menolong orang lain dan diri sendiri.
~Hindarilah terjadinya kecelakaan di gua untuk orang lain maupun diri sendiri.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sabha Bawana - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger